Selain tentang kebajikan, Islamisme dapat pula meliputi ideologi atau ajaran tentang hal ikhwal kenegaraan dan kemasyarakatan. Atas dasar ini muncul istilah Pan-Islamisme yaitu suatu usaha untuk meningkatkan persatuan atau solidaritas di antara negara-negara yang berideologi Islam atau menjadikan ajaran-ajaran Islam sebagai acuannya (Sudibjo, 2004:256).
Karena baik Islamisme (ideologi) maupun Pan-Islamisme (persaudaraan) mendasarkan diri pada Islam, perlulah kiranya kita memahami selayang-pandan g apakah yang dimaksud dengan Islam itu. Berikut sebuah wawasan tentang Islam dari Djohan Effendi dalam Ensiklopedi NasionaI Indonesia :
Islam secara umum dipahami sebagai agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw karena itu beberapa penulis barat menyebutnya Mohammadanism. Perkataan Islam berasal dari kata silm yang berarti damai. Karena itu Islam mengandung makna masuk ke dalam suasan atau keadaan damai dalam kehidupan individual maupun sosial. Sebagai agama, Islam mengajarkan nilai-nilai dan norma yang membawa para penganutnya bersikap damai dengan Tuhannya dan bersikap damai dengan sesama makhluk.
Sikap damai dengan Tuhan diwujudkan dalam : (1) sikap istislam atau pasrah mengikuti sepenuhnya kehendak Tuhan (QS 3:82); (2) sikap inqiyad atau patuh dan tunduk kepada ketentuan Tuhan (QS 6:5); dan (3) sikap ikhlash atau tulus mengabdi kepada Tuhan (QS 98:5).
Sikap damai terhadap sesama makhluk diwujudkan dalam : (1) sikap ikhsan atau berbuat baik kepada sesama secara tulus (QS 28:77); (2) sikap ishlah atau membangun kehidupan yang lebih baik dan hubungan yang lebih konstruktif dengan alam dan sesama manusia (QS 2:224 & QS 21:105); dan (3) sikap qisth atau berlaku adil kepada siapa pun tanpa kecuali di seluruh bidang kehidupan.
Inti ajaran Islam adalah tawhid, yaitu pengakuan dan kepercayaan sepenuhnya kepada keesaan Tuhan (QS. 112) yang diwujudkan dalam sikap beribadah hanya kepadaNya (QS. 1:5). Pengakuan akan keesaan Tuhan memdasari pengakuan akan kesatuan, persamaan dan persaudaraan umat manusia (QS. 2:213; 49:13).
Dalam keyakinan seorang muslim , semua agama samawi yang dibawa oleh para Nabi sepanjang zaman mengajarkan inti ajaran yang sama, yaitu tawhid (QS. 21:25). Perbedannya hanyalah pada syariat atau aturan yang mengatur kehidupan manusia sesuai dengan zamannya masing-masing (QS. 5:48). Karena itu dalam perspektif Islam, semua agama samawi atau agama wahyu yang diturunkan dari Tuhan YME adalah agama Islam (QS. 3: 18). Kedatangan Nabi Muhammad saw sebagai Khatamu 'l -Nabiyyin atau penutup segala Nabi (QS. 33:40) adalah untuk membawa agama Islam yang telah mencapai tahap kesempurnaan (QS. 5:3), karenanya risalah Islam betsifat universal (QS. 21:107; 34:28).
Sasaran yang ingin dicapai oleh syariat Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw meliputi lima hal yang dikenal sebagai al Mabadiu 'l-Khamsah (Prinsip yang Lima) :
(1) Hifzhu 'l-din atau memelihara keluhuran agama. Dalam rangka mencapai sasaran ini Islam menegaskan kebebasan beragama (QS. 2:256), pembelaan terhadap eksistensi institusi keagamaan (QS. 22:40) dan larangan penghinaan terhadap keyakinan orang lain (QS. 6:109).
(2) Hifzhu 'l-nafsi atau memelihara keselamatan jiwa. Islam menentukan hukuman yang sangat keras terhadap kejahatan pembunuhan dan penganiayaan (QS. 2: 178).
(3) Hifzhu 'l-aqli atau memelihara kesehatan aqal atau mental. Karena itu Islam melarang minuman keras (QS. 5:90).
(4) Hifzhu 'l-nasli atau memelihara kesucian keturunan. Islam menetapkan pengaturan yang rinci tentang perkawinan (QS. 4:3,22,23,34) dan larangan semua bentuk perzinahan (QS. 24:2).
(5) Hifzhu 'l-mal atau memelihara keamanan harta benda. Islam menekankan agar pemilikan harta benda dilakukan dengan cara yang sah (QS. 2:188 ;4:29, 161; 9:34); mencegah penumpukan kekayaan di tangan segelintir orang kaya (QS. 59:7); mewajibkan zakat dan infak (QS. 2:3,35; 9:60); dan menegaskan bahwa dalam harta orang kaya terdapat hak orang miskin (QS. 70:24,25).
Dalam peraturan kehidupan bermasyarakat Islam menetapkan beberapa prinsip dasar. Prinsip itu tercakup dalam cita-cita tentang sebuah masyarakat terbuka (QS. 14:1) yang didasarkan atas sistem musyawarah (QS. 3:158; 42:58), landasan hukum dan pemerintahan yang adil (QS. 4:58), pemerataan kekayaan (QS. 59:7), kebebasan dalam berkeyakinan (QS. 17:29) dan penghormatan atas martabat manusia sebagai makhluk yang dimuliakan al-Khaliq sendiri (QS. 17:70).
Sumber utama ajaran Islam yang disepakati oleh seluruh kalangan kaum muslimin adalah al-Quran dan Sunnah Nabi. Untuk memudahkan penganut agama Islam memahami ajaran agamanya, para ulama Islam menyampaikan ajaran itu secara sistematik. Usaha ini melahirkan al-'ulumu 'l-diniyah atau ilmu pengetahuan keagamaan. Ilmu pengetahuan keagamaan bersumber pada semacam trilogi ilmu pengetahuan keislaman, yaitu ushulu 'l-din (teologi), fiqih (hukum Islam) dan tasawuf (sufisme). Khusus berkaitan dengan kedua sumber utama ajaran Islam di atas berkembang pula cabang ilmu pengetahuan keislaman, yaitu 'ulumu 'l-Quran (ilmu-ilmu yang bersangkutan dengan al-Quran dan penafsirannya) dan 'ulumu 'l-hadits (ilmu-ilmu yang bersangkutan dengan hadis). Berkaitan dengan penetapan hukum Islam muncul pula cabang ilmu pengetahuan keislaman yang lain, ushulu 'l-fiqh dan qawaidu 'l-fiqh.
Sikap damai dengan Tuhan diwujudkan dalam : (1) sikap istislam atau pasrah mengikuti sepenuhnya kehendak Tuhan (QS 3:82); (2) sikap inqiyad atau patuh dan tunduk kepada ketentuan Tuhan (QS 6:5); dan (3) sikap ikhlash atau tulus mengabdi kepada Tuhan (QS 98:5).
Sikap damai terhadap sesama makhluk diwujudkan dalam : (1) sikap ikhsan atau berbuat baik kepada sesama secara tulus (QS 28:77); (2) sikap ishlah atau membangun kehidupan yang lebih baik dan hubungan yang lebih konstruktif dengan alam dan sesama manusia (QS 2:224 & QS 21:105); dan (3) sikap qisth atau berlaku adil kepada siapa pun tanpa kecuali di seluruh bidang kehidupan.
Inti ajaran Islam adalah tawhid, yaitu pengakuan dan kepercayaan sepenuhnya kepada keesaan Tuhan (QS. 112) yang diwujudkan dalam sikap beribadah hanya kepadaNya (QS. 1:5). Pengakuan akan keesaan Tuhan memdasari pengakuan akan kesatuan, persamaan dan persaudaraan umat manusia (QS. 2:213; 49:13).
Dalam keyakinan seorang muslim , semua agama samawi yang dibawa oleh para Nabi sepanjang zaman mengajarkan inti ajaran yang sama, yaitu tawhid (QS. 21:25). Perbedannya hanyalah pada syariat atau aturan yang mengatur kehidupan manusia sesuai dengan zamannya masing-masing (QS. 5:48). Karena itu dalam perspektif Islam, semua agama samawi atau agama wahyu yang diturunkan dari Tuhan YME adalah agama Islam (QS. 3: 18). Kedatangan Nabi Muhammad saw sebagai Khatamu 'l -Nabiyyin atau penutup segala Nabi (QS. 33:40) adalah untuk membawa agama Islam yang telah mencapai tahap kesempurnaan (QS. 5:3), karenanya risalah Islam betsifat universal (QS. 21:107; 34:28).
Sasaran yang ingin dicapai oleh syariat Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw meliputi lima hal yang dikenal sebagai al Mabadiu 'l-Khamsah (Prinsip yang Lima) :
(1) Hifzhu 'l-din atau memelihara keluhuran agama. Dalam rangka mencapai sasaran ini Islam menegaskan kebebasan beragama (QS. 2:256), pembelaan terhadap eksistensi institusi keagamaan (QS. 22:40) dan larangan penghinaan terhadap keyakinan orang lain (QS. 6:109).
(2) Hifzhu 'l-nafsi atau memelihara keselamatan jiwa. Islam menentukan hukuman yang sangat keras terhadap kejahatan pembunuhan dan penganiayaan (QS. 2: 178).
(3) Hifzhu 'l-aqli atau memelihara kesehatan aqal atau mental. Karena itu Islam melarang minuman keras (QS. 5:90).
(4) Hifzhu 'l-nasli atau memelihara kesucian keturunan. Islam menetapkan pengaturan yang rinci tentang perkawinan (QS. 4:3,22,23,34) dan larangan semua bentuk perzinahan (QS. 24:2).
(5) Hifzhu 'l-mal atau memelihara keamanan harta benda. Islam menekankan agar pemilikan harta benda dilakukan dengan cara yang sah (QS. 2:188 ;4:29, 161; 9:34); mencegah penumpukan kekayaan di tangan segelintir orang kaya (QS. 59:7); mewajibkan zakat dan infak (QS. 2:3,35; 9:60); dan menegaskan bahwa dalam harta orang kaya terdapat hak orang miskin (QS. 70:24,25).
Dalam peraturan kehidupan bermasyarakat Islam menetapkan beberapa prinsip dasar. Prinsip itu tercakup dalam cita-cita tentang sebuah masyarakat terbuka (QS. 14:1) yang didasarkan atas sistem musyawarah (QS. 3:158; 42:58), landasan hukum dan pemerintahan yang adil (QS. 4:58), pemerataan kekayaan (QS. 59:7), kebebasan dalam berkeyakinan (QS. 17:29) dan penghormatan atas martabat manusia sebagai makhluk yang dimuliakan al-Khaliq sendiri (QS. 17:70).
Sumber utama ajaran Islam yang disepakati oleh seluruh kalangan kaum muslimin adalah al-Quran dan Sunnah Nabi. Untuk memudahkan penganut agama Islam memahami ajaran agamanya, para ulama Islam menyampaikan ajaran itu secara sistematik. Usaha ini melahirkan al-'ulumu 'l-diniyah atau ilmu pengetahuan keagamaan. Ilmu pengetahuan keagamaan bersumber pada semacam trilogi ilmu pengetahuan keislaman, yaitu ushulu 'l-din (teologi), fiqih (hukum Islam) dan tasawuf (sufisme). Khusus berkaitan dengan kedua sumber utama ajaran Islam di atas berkembang pula cabang ilmu pengetahuan keislaman, yaitu 'ulumu 'l-Quran (ilmu-ilmu yang bersangkutan dengan al-Quran dan penafsirannya) dan 'ulumu 'l-hadits (ilmu-ilmu yang bersangkutan dengan hadis). Berkaitan dengan penetapan hukum Islam muncul pula cabang ilmu pengetahuan keislaman yang lain, ushulu 'l-fiqh dan qawaidu 'l-fiqh.
Dalam perkembangannya , ilmu pengetahuan keagamaan itu melahirkan berbagai mazhab atau aliran pemahaman.
Dalam bidang ushulu 'l-din (ilmu kalam) muncul berbagai aliran seperti Murji'ah, Jabariyah, Qadariyah, Mu'tazilah, Asy'ariyah dan Maturidiyah. Dua madzhab terakhir dikenal sebagai aliran ahlu 'l-sunnah wa 'l-jamaah atau teologi sunni.
Dalam bidang fikih muncul berbagai mazhab seperti Hanafi, Maliki, Syafi'i, Hanbali, Zhahiri, Ja'fari dan Zaydi. Empat mazhab pertama tergolong aliran Sunni dan dua madzhab terakhir tergolong aliran Syi'i.
Dalam bidang tasawuf terdapat dua aliran besar, yaitu Tasawuf Nazhari yang lebih memusatkan pembahasan pada masalah ketuhanan dan Tasawuf Amali yang lebih memberikan perhatian pada masalah akhlak. Pada aliran pertama berkembang berbagai faham seperti faham wihdatu 'l-wujud (semacam panteisme) dan lawannya faham wihdatu 'l-syuhud. Selain itu, masih berkaitan dengan tasawuf dikenal pula berbagai aliran tarikat seperti Tarikat Naqsyabandiyah, Qadiriyah, Syadzaliyah, Syatariyah, Samaniyah, Sanusiyah, Idrisiyah, Khalwatiyah, Tijaniyah dan masih banyak lagi.
Pertemuan kaum muslimin dengan dunia modern melahirkan berbagai aliran pemikiran, seperti aliran Salafi dengan semboyan "Kembali kepada Quran dan Sunnah" dan aliran Tajdidi dengan semboyan "Maju ke Depan bersama al-Quran". Karena itu muncul berbagai sebutan seperti kaum tradisionalis, modernis dan reformis. Dalam perkembangan selanjutnya berkembang pemikiran tentang sistem politik Islam, sistem ekonomi Islam, sistem pendidikan Islam dan sebagainya. Muncul pula gagasan Islamisasi ilmu.
Dalam menghadapi dunia modern, para ulama terdorong untuk mengadakan interpretasi dan formulasi kembali untuk memunculkan konsep keislaman yang relevan dengan tantangan zaman sebagai perwujudan semboyan bahwa Islam shalihun li kulli zaman wa makan (Islam itu sesuai untuk setiap saat dan tempat). (ENI Vol. 7, 2004 :247-249).
Komentar
Posting Komentar