Langsung ke konten utama

Postingan

M. Daud Beureuh

  M. Daud Beureuh sebagai Hoofdbestuur P.Oe.S.A ( PUSA) Pada tulisan sebelumnya sudah saya sampaikan kepada para sahabat yang budiman bahwa dalam musyawarah yang diadakan di Matanggelumpang Dua pada tanggal 5 Mei 1939 secara bulat disepakati pendirian Persatoean Oelama Seloeroeh Atjeh disingkat P.Oe.S.A yang selanjutnya ditulis PUSA dengan kepengurusan sebagai berikut :   Ketua I Teungku M. Daud Beureuh, Ketua II Teungku Abd. Rahman Meunasah Meucap; Setia Usaha I Teungku M. Nur Ibrahimy, Setia Usaha II Teungku Ismail Yakub; Bendahara T.M. Amin; Komisaris masing-masing Teungku   Abd. Wahab Keunaloe Samalanga , Teungku Syeikh Haji   Abd. Hamid Samalanga, Teungku   Usman Lampoh Awe, Teungku Yahya Baden Peudada, Teungku Mahmud Simpang Ulin, Teungku Ahmad Damanhuri Takengon, Teungku M. Daud dan Teungku Usman Azis Lho’ Sukon. Sesuai Anggaran Dasarnya, Hoofdbestuur berkedudukan di tempat kedudukan Ketua I dan Setia Usaha I. Sigli menjadi tempat kedudukan Hoofdbestuu...

Pemberontakan di Bayu dan Pandrah

  Rasa benci orang Aceh terhadap Belanda menyebabkan PUSA memihak pada Jepang, dengan harapan Jepang membantu mengusir Belanda dari Indonesia. Oleh sebab itu, saat kolone kelima Jepang yang diberi nama Fujiwara Kikan datang di Aceh, mereka disambut oleh para ulama PUSA meskipun bersifat rahasia. Pada bulan Februari 1942 meletus pemberontakan melawan Belanda di Seulimeun. Kontrolir Seulimeun, Tegelman, dibunuh pada malam itu. Keesokan harinya tersiar kabar Panglima Polem sudah memberontak, sehingga memberontaklah seluruh Sagi XXII Mukim yang disusul oleh Sagi XXVI Mukim di bawah T. Nyak Arif. Pemberontakan di Aceh Besar itu menelan beberapa korban seperti Van Sperling, kepala eksploitasi A.S.S. (Atjeh Staats Spoorwagon) di kota Sigli. Dalam keadaan   kosong dari orang-orang Belanda, Jepang kemudian menduduki Kutaradja, dan segera menempatkan Fujiwara Kikan untuk Aceh yaitu Tuan Matsu Buchi. Ia membentuk suatu komite untuk membentuk pemerintahan baru. Orang-orang yang ak...

Persatuan Ulama Seluruh Aceh

  Kemarin   sudah sampaikan kepada para pembaca bahwa   pada tanggal 19 Februari   1942, tiga minggu sebelum mendaratnya Jepang di daerah itu, para ulama Aceh memulai kampanye sabotase terhadap Belanda. Pada awal bulan   Maret, Aceh pun memberontak. Kebanyakan para uleebalang (bangsawan) memutuskan tidak melawan arus, dan Belanda tidak mempunyai pilihan lain kecuali mengungsi ke selatan. Para pemimpin PUSA (Persatuan Ulama Seluruh Aceh) berharap pihak Jepang memberi hadiah atas usaha mereka dengan menggeser kekuasaan para uleebalang. Ternyata PUSA sudah berdiri sejak tahun 1939 sebagaimana uraian berikut. PUSA berdiri pada tanggal 12 Rabi’ul Awal 1358 H bertepatan dengan hari perayaan Maulid Nabi tanggal   5 Mei 1939. Organisasi ini lahir sebagai hasil kesepakatan para ulama   pada musyawarah di Matanggelumpang Dua yang dipimpin oleh Tengku Abd. Rahman Menasah Meucap. Berdirinya PUSA dilatarbelakangi oleh perpecahan di antara para ulama Aceh sesud...

Sukarno Mendarat di Pasar Ikan

Pada bulan Februari 1942, sebulan sebelum Belanda menyerah pada Jepang, Hatta dan Sjahrir dipindahkan dari pembuangan di Banda Neira ke Sukabumi dan kemudian dibebaskan Jepang (Imran, ENI Vol. 6, 2004: 366) Sementara itu ketika Jepang mendarat di Palembang, Sukarno dilarikan pemerintah Belanda dari Bengkulu ke Padang. Sebagian perjalanan menggunakan mobil selanjutnya berjalan kaki menembus hutan, sementara barang-barang dibawa dengan menggunakan pedati yang ditarik sapi. Belanda hendak melarikan Sukarno ke luar negeri, entah ke Australia atau Suriname. Sesampainya di kota itu bala tentara Jepang masuk dan Sukarno tertahan di Padang. Di Padang Sukarno tinggal di rumah dr. Woworuntu dan kemudian di rumah H. Abdul Latif seorang pedagang kenamaan. Penduduk Padang sempat mengibarkan bendera merah putih karena mereka berpikir Indonesia sudah merdeka.   Nyatanya tentara Jepang menyuruh untuk menurunkan bendera merah putih.  Saat di Padang, Sukarno juga berkunjung ke Bukitti...

Sukarno Mengajar di Perguruan Tinggi Muhammadiyah

  Saat menjalani pengasingan di Bengkulu (1938-1942), selain membangun masjid jami dan bermain tonil dalam kelompok sandiwara Monte Carlo, Bung Karno juga mengajar di Muhammadiyah dan Taman Siswa. Mengajar merupakan hal yang tidak asing lagi bagi beliau karena saat masih di Bandung pun Bung Karno mengajar di Ksatriaan Instituut milik Dr Setyabudi yang kini menjadi SMP Negri 1 Bandung. "Sebagai orang tahanan Bung Karno tentu saja tidak memiliki k ebebasan, kemanapun ia pergi, pejabat Politieke Inlichtingen Dienst (PID) selalu mengikutinya. Karena pengawalan yang ketat dari Belanda itu, Bung Karno hanya beraktivitas dalam bidang pendidikan dan sosial. Contohnya saja dalam bidang pendidikan, Pimpinan Muhammadiyah Bengkulu saat itu yakni Hasan Din, meminta Bung Karno untuk mengajar di perguruan Muhammadiyah Bengkulu. Ketika itu Bung Karno mengajarkan tentang pembaruan Islam di perguruan Muhammadiyah tersebut. Sementara itu di perguruan Taman Siswa, Bung Karno aktif ...

Masjid Sukarno di Kota Bengkulu

  Ketika berada dalam pembuangan di Bengkulu Ir Sukarno yang lebih dikenal dengan Bung Karno melakukan pelbagai kegiatan yang masih bisa ditelusuri hingga kini. Di rumah pengasingan Bung Karno masih tersimpan banyak buku naskah drama yang ditulisnya untuk bahan pentas kelompok sandiwara yang disutradarainya, di mana Bung Karno sendiri juga berperan sebagai aktor. Selain itu Bung Karno juga merancang sebuah masjid yang hingga kini masih berdiri megah di pusat kota Bengkulu. Bung Karno juga tercatat sebagai salah seorang ketua Muhammadiyah Bengkulu. Di Bengkulu pula Bung Karno menikah dengan Fatmawati, setelah sebelumnya menikah dengan Utari anak Cokroaminoto dan Inggit Garnasih. Rumah Bung Karno dan Rumah Fatmawati kini dijadikan museum.

Sukarno Diasingkan ke Bengkulu

Saat dalam pembuangan di Ende, Sukarno terserang malaria. Berita tentang sakitnya Sukarno menimbulkan kehebohan di Jakarta dan menjadi pembicaraan di Volksraad. Thamrin mengajukan protes dan mengatakan bahwa kalau sampai Sukarno meninggal di Ende karena sakitnya, maka pemerintah Hindia Belanda harus bertanggungjawab.  Protes Thamrin itu mendapat perhatian. Pada awal tahun 1938 Sukarno dipindahkan dari Ende, Flores ke Sumatra, tepatnya ke Bengkulu. Dari Ende, Sukarno dan keluarganya naik kapal De Klerk ke Surabaya. Dari Surabaya menggunaan kereta api menuju Jakarta. Dari Jakarta dibawa dengan kereta api ke Merak kemudian menyebrang ke Sumatra dengan kapal Sloet van den Beele.  Di Bengkulu Sukarno menjadi anggota Muhammadiyah dan selanjutnya menjadi ketua bidang pengajaran. Ketika itu ia banyak menyumbangkan artikel mengenai ke-Islaman kepada majalah Pandji Islam milik organisasi tersebut. Artikel-artikel ke-Islaman Bung Karno dimuat ulang dalam DBR I. Dari artikel-artikel ...