Langsung ke konten utama

Nabi Ishaq as Bapak Bangsa Israil


Saat Ishaq dilahirkan Nabi Ibrahim as berusia 100 tahun dan Sarah, ibunya 90 tahun. Usia kakak tirinya Ismail 13 tahun.

Dikisahkan bahwa sebelumnya ada dua orang datang bertamu pada Ibrahim dan ia segera menyembelih ternaknya dan menyiapkan hidangan makan untuk menyambut kedua tamunya itu. Saat ia mengetahui bahwa tamunya tidak menyentuh makanan yang ia suguhkan ia pun sadar yang datang bukan orang biasa maka beliau merasa ketakutan. Ternyata tamunya adalah malaikat yang memberi kabar gembira dan sedih. Kabar gembira bahwa Ibrahim akan memiliki putra dari Sarah. Kabar sedih karena kaum Luth yang homosek dan lesbi akan dihukum. Dari balik pintu Sarah tertawa saat mendengar berita dari malaikat tersebut. Ia merasa takjub bagaimana orang setua dia bisa mengandung dan melahirkan seorang anak.

"Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh."

"Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq. Dan diantara anak cucunya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang Zalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata." (QS 37 : 112-113)

Berbeda dengan Ismail yang harus hidup berdua dengan ibu dan jauh dari ayahnya, Ishaq hidup bersama ayahnya Nabi Ibrahim as. Nabi Ibrahim mengutus seorang hambanya dari Palestina ke Faddan Arm (Antara Dua Sungai), Irak selatan. Sekembalinya hamba tersebut membawa seorang teman wanita yang akhirnya dinikahi oleh Ishaq.
Menurut Injil saat Ishaq menikahi Rifqa (Rebekah) binti Bethuel usia Rifqa 40 tahun. Karena dia kurang subur Ishaq berdoa untuknya. Ia pun hamil dan memberi dua anak laki-laki. Anak pertamanya Al Ais (Esau) yang melahirkan bangsa Romawi dan yang kedua Ya'qub yang melahirkan bangsa Israil. Ishaq lebih menyayangi Esau karena merupakan anak tertua sedangkan Rifqa lebih menyayangi Ya'qub karena lebih muda.

Saat Ishaq menua dan pandangannya mulai memburuk ia meminta Esau berburu hewan dan memasaknya. Esau adalah seorang pemburu.
Rifqa yang mendengar pembicaraan Ishaq pada Esau menyuruh Ya'qub menyembelih dua kambing muda sedangkan ia mengolahnya menjadi masakan yang lezat. Rifqa kemudian mendandani Ya'qub dengan pakaian Esau dan melapisi kulit Ya'qub yang halus dengan bulu kambing. Ishaq yang mendengar suara Ya'qub tapi merasakan kulit Esau
kemudian memberkatinya agar lebih mulia di antara saudaranya. Esau pun pulang dari berburu dan mengolah makanan untuk ayahnya. Saat menyajikan makanan itu mereka berdua menjadi sadar bahwa Ya'qub telah lebih dulu menyajikan masakan untuk Ishaq dan telah memperoleh berkah ayah mereka itu. Esau pun marah dan berniat akan membunuh Ya'qub sesegera mungkin. Esau pun minta berkat dari ayahnya dan ayahnya memberkati Esau bahwa tempat tinggalnya akan dilalui kekayaan dunia dan ia akan mendapat banyak keuntungan.
Saat Rifqa mendengar niat Esau akan membunuh Ya'qub ia pun segera menyuruh anak kesayangannya itu segera pergi ke saudaranya di Laban sampai kemarahan Esau reda. Ia pun meminta Ya'qub mengawini anak saudaranya itu.

Setelah bertahun tahun membantu pamannya mengurus ternak, Ya'qub kembali pada ayahnya. Ia membawa dua anak pamannya Laya (Leah)dan Rahil (Rachel) sebagai istrinya. Ia memiliki 12 anak dari kedua istrinya dan juga dari kedua pembantu istrinya. Kedua belas anak Ya'kub itu menjadi cikal bakal suku suku bangsa Israil.

Ya'kub pun membawa banyak ternak dari pamannya yang sudah berkembang biak. Sebagian ternaknya itu diberikan pada kakaknya Esau sebagai bentuk kasih sayang penghormatan dan permohonan maaf karena telah merebut berkat dari ayahnya. 

Merekapun kemudian berdamai. Lebih jauh mengenai Israil ini akan saya ceritakan kemudian.
Nabi Ishaq as jatuh sakit wafat dalam usia 180 tahun. Beliau dimakamkan oleh Esau dan Ya'qub dan dimakamkan di samping ayahnya di Hebron (Al Khalil) persisnya di Al Makfilah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah Perang Gerilya Jendral Sudirman

  Sudirman lahir di Purbalingga, Jawa Tengah. Ayahnya, Karsid Kartawiraji bekerja sebagai mandor pabrik tebu di Purwokerto. Ibunya, Sijem berasal dari Rawalo, Banyumas. Sejak kecil Sudirman dibesarkan oleh pamannya, Raden Tjokrosoenarjo (kakak ipar Sijem). Sudirman memperoleh pendidikan di   Hollands Inlandse School (HIS) Taman Siswa Purwokerto kemudian pindah ke Sekolah Wira Tama dan tamat pada tahun 1924. Setelah tamat di Sekolah Wira Tama, Sudirman melanjutkan pendidikan ke Kweekschool (Sekolah Guru) Muhammadiyah di Solo. Jiwa militansi Sudirman tertempa sejak ia masuk Hizbul Wathan (kepanduan Muhammadiyah). Kemudian Sudirman menjadi Kepala Sekolah Dasar Muhammadiyah. Pada tahun 1936, Sudirman menikah dengan Alfiah, temannya saat bersekolah di HIS Taman Siswa Purwokerto dan dikaruniai tujuh orang anak. Pada zaman pendudukan Jepang, Sudirman   meninggalkan profesi sebagai guru dan mengikuti latihan militer (Peta). Ia diangkat menjadi Daidancho (Komandan Batalion) ...

Syafruddin Menyerahkan Mandatnya

  Setelah Tentara Belanda meninggalkan Yogyakarta pada akhir bulan Juni 1949, pada tanggal 4 Juli 1949, utusan Republik yaitu Mohammad Natsir, Dr. Leimena dan    Dr. Halim berangkat ke Bukittinggi untuk mengadakan kontak dengan Pemerintah Darurat Republik Indonesia di Sumatra. Pada tanggal 6 Juli 1949, Presiden Sukarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta dan rombongan tiba di Yogyakarta dari Pulau Bangka. Di lapangan terbang Meguwo mereka disambut para pembesar, rakyat dan anggota UNCI. Sesudah kembalinya pemerintah Republik ke Yogyakarta, pada sidang pertama Kabinet Republik tanggal 13 Juli 1949, Syafruddin atas nama PDRI menyerahkan mandatnya kepada Wakil Presiden Mohammad Hatta. Pada tanggal 14 Juli 1949, Kabinet Republik Indonesia menerima Persetujuan Roem-Royen. Bantuan Untuk Republik Bantuan untuk Republik Indonesia datang dari Negara Indonesia Timur (NIT). Pertama pada tanggal 11 Juli 1949, NIT memberi sumbangan berupa barang-barang tekstil dan obat-obatan...

Insiden Djawi Hisworo

Menguatnya politik Islam reformis dan sosialisme tidak menyurutkan nasionalisme etnis khususnya nasionalisme Jawa. Menurut Ricklefs, para nasionalis Jawa secara umum tidak menerima Islam reformis dan cenderung melihat masa Majapahit pra Islam sebagai zaman keemasan. Hasil dari pekerjaan arkeologi yang didanai pemerintah, termasuk pembangunan kembali candi-candi pra-Islam yang sangat indah serta penerbitan teks-teks Jawa Kuno oleh para sarjana filologi telah membuat Jawa pra-Islam dikenal baik dan tergambar sebagai titik tinggi peradaban Jawa klasik yang membangkitkan sentimen nasionalis Jawa. Pada tahun 1917, Comité voor het Javaansch Nationalisme (Komite untuk Nasionalisme Jawa) didirikan. Komite ini aktif pada tahun 1918 dengan menerbitkan majalah bulanan Wederopbouw (Rekonstruksi).  Kekuatan penuntun utama di balik gerakan ini adalah Kerajaan Mangkunegaran, khususnya Mangkunegara VII (1916-1944). Nasionalisme Jawa dan pembaharuan Islam berbenturan ketika muncul tulisan dal...